Anies Baswedan menyampaikan kritik tajam terkait kondisi ekonomi Indonesia. Ia menyoroti merosotnya rupiah, ancaman El Nino, hingga kebijakan pemerintah yang dinilai tidak konsisten.
JAKARTA, ANISPOST – Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyampaikan keprihatinan mendalam terkait kondisi ekonomi dan sosial-politik Indonesia yang dinilainya sedang berada dalam situasi tidak baik-baik saja. Melalui pernyataan resminya, Anies menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang kian merosot dalam beberapa waktu terakhir.
“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, dan tabungan tergerus,” ujar Anies dalam keterangan video terbarunya, dikutip Kamis (21/5).
Anies menilai, situasi domestik kian diperberat oleh tantangan global yang datang bersamaan, mulai dari memanasnya geopolitik di Timur Tengah hingga ancaman fenomena alam El Nino terkuat dalam sejarah. Menurutnya, publik dan pelaku pasar saat ini sangat membutuhkan kepastian hukum dan transparansi dari pengambil kebijakan.
Namun, ia menyayangkan respons pemerintah yang dinilai kurang sensitif dan tidak konsisten dalam menghadapi krisis. Ia mengkritik adanya kecenderungan pejabat publik yang memilih-milih data demi menampilkan citra yang baik di mata publik.
“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini besok berbeda. Pasar bingung, investor menahan diri,” cecar Anies.
Lebih lanjut, Anies juga menyentil tidak hadirnya keteladanan dari elit politik. Di saat masyarakat dipaksa mengencangkan ikat pinggang akibat tekanan ekonomi, pemerintah justru dinilai melakukan pemborosan anggaran untuk hal-hal yang bukan prioritas.
Di akhir pernyataannya, Anies mendesak pemerintah untuk segera menghentikan narasi “penenang semu” dan mulai membuka data ekonomi apa adanya agar dapat merumuskan arah kebijakan yang jelas dan solid. Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersiap menghadapi masa-masa sulit dengan tetap menjaga optimisme berbasis realita.
