JAKARTA – Diskusi mengenai arah politik luar negeri Indonesia di masa depan kian menarik perhatian publik. Sebuah infografis bertajuk “Jika Anies Baswedan Menjadi Presiden, Akan Seperti Apa Tatanan Dunia?” merinci secara gamblang arah kebijakan diplomasi global dan visi geopolitik yang diusung oleh mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut jika menakhodai kepemimpinan nasional.
Dalam dokumen virtual tersebut, Anies membawa pendekatan yang menitikberatkan pada nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan antar-negara, serta reformasi peran institusi multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
BACA JUGA >>> Jika Anies Baswedan Menjadi Presiden, Akan Seperti Apa Tatanan Dunia?
Enam Pilar Kebijakan Luar Negeri
Guna mewujudkan tatanan global yang stabil, terdapat enam pilar prinsip utama yang menjadi pondasi kebijakan luar negeri yang ditawarkan:
-
Diplomasi Beradab: Mengedepankan ruang-ruang dialog, sikap saling menghormati, serta membangun kepercayaan (trust-building) yang kuat antarbangsa.
-
Inklusif & Merangkul: Menjamin seluruh negara, baik negara besar maupun kecil, memiliki hak suara yang setara dan adil di panggung PBB.
-
Perdamaian Berkeadilan: Mendorong resolusi konflik global yang tidak sekadar damai, melainkan berbasis keadilan, kemanusiaan, serta solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
-
Pembangunan Berkelanjutan: Memperkuat komitmen kolektif global terhadap kelestarian lingkungan hidup, transisi energi bersih, dan penguatan ekonomi hijau.
-
Pendidikan & Peradaban: Menempatkan sektor pendidikan sebagai instrumen kunci bagi kemajuan peradaban bangsa sekaligus katalis perdamaian dunia.
-
Berpihak pada Manusia: Memfokuskan agenda global pada pengentasan kemiskinan ekstrem, kesetaraan sosial, penegakan hak asasi manusia (HAM), dan menjaga martabat setiap individu.
Proyeksi Enam Tatanan Dunia Baru
Melalui implementasi pilar-pilar strategis tersebut, infografis ini memproyeksikan lahirnya enam dampak konkret pada tatanan internasional:
-
Dunia Lebih Damai: Reduksi potensi konflik global melalui supremasi dialog dan mediasi berbasis keadilan, sekaligus mengembalikan PBB sebagai rumah kepercayaan bagi semua bangsa.
-
Keadilan Global Menguat: Menekan ketimpangan ekonomi dan politik global, sehingga negara-negara berkembang mendapatkan kesempatan yang lebih adil untuk maju.
-
Kerja Sama Selaras, Bukan Dominasi: Mentransformasi PBB menjadi arena kolaborasi murni, bukan lagi sekadar alat kepentingan segelintir negara-negara besar (superpower).
-
Bumi Lebih Terjaga: Menjadikan aksi nyata melawan perubahan iklim (climate change) dan penanganan kerusakan lingkungan sebagai prioritas utama bersama secara global.
-
Peradaban Saling Menghargai: Merayakan keberagaman budaya serta agama sebagai kekuatan pemersatu dunia, bukan sebagai pemicu perpecahan.
-
Generasi Masa Depan Lebih Berharapan: Memastikan anak-anak di seluruh dunia dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, berpendidikan, sehat, serta dipenuhi peluang masa depan.
Melalui narasi gagasan ini, arah diplomasi yang ditawarkan tidak lagi menempatkan Indonesia sekadar sebagai penonton pasif, melainkan bertindak sebagai aktor aktif (active player) yang ikut mewarnai dan merancang arsitektur keamanan serta kesejahteraan dunia.
Gagasan politik luar negeri yang bertumpu pada keadilan global dan penguatan institusi multilateral mencerminkan kerangka pemikiran hukum internasional yang kuat. Konsep ini sejalan dengan mandat konstitusi UUD 1945 alinea keempat untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”
Visi ini mencoba mereposisi peran geopolitik Indonesia di tengah memanasnya rivalitas blok Barat dan Timur serta ketidakpastian ekonomi global.
Secara teoritis, pilar diplomasi yang ditawarkan condong pada mazhab kehumasan internasional yang bercorak idealis-konstruktivis. Fokusnya bukan sekadar mengejar keuntungan transaksional sesaat (economic-driven diplomacy), melainkan membangun pengaruh (soft power) lewat kepemimpinan moral di PBB.
Dengan mendorong kesetaraan hak suara negara kecil, Indonesia diposisikan sebagai jembatan penyeimbang (bridge builder) sekaligus penggerak utama bagi kepentingan negara-negara belahan bumi selatan (Global South).
Jika visi ini diimplementasikan, dampak positifnya adalah penguatan posisi tawar (bargaining power) Indonesia sebagai pemimpin diplomasi di kawasan Asia Tenggara dan dunia internasional.
Namun, dampaknya di dalam negeri memerlukan kesiapan anggaran dan konsistensi birokrasi, mengingat keterlibatan aktif dalam mediasi konflik global membutuhkan modal diplomatik yang besar. Jika tidak diimbangi dengan kekuatan ekonomi domestik yang solid, implementasi gagasan ini berisiko menghadapi tantangan realitas politik internasional yang cenderung realis dan transaksional.
Untuk membumikan visi tatanan dunia ini agar dapat diterima oleh publik domestik maupun internasional, perumusan kebijakan luar negeri ke depan harus mengadopsi strategi “diplomasi membumi”.
Artinya, setiap langkah mediasi konflik dan komitmen lingkungan hijau di tingkat global harus dikorelasikan langsung dengan dampaknya bagi pembukaan lapangan kerja, stabilitas harga pangan, dan perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri.
Sinergi antara Kementerian Luar Negeri, akademisi, dan sektor industri kreatif juga menjadi kunci utama untuk mengomunikasikan gagasan besar ini secara taktis di era digital.

